Paul Barber, CEO di Balik Suksesnya Brighton & Hove Albion

Brighton & Hove Albion menutup musim 2022/2023 dengan rekor manis. The Seagulls sukses mencetak sejarah dengan berhasil lolos ke kompetisi antarklub Eropa untuk pertama kalinya sejak klub berdiri.

Jika kita kulik ke dalam, sosok yang paling berjasa atas prestasi yang Brighton torehkan sejauh ini adalah Tony Bloom. Sejak menjadi owner pada 2009 silam, Bloom yang lahir dan besar di Brighton, secara perlahan membangun ulang kekuatan The Seagulls. Bloom membesarkan klub masa kecilnya itu, dari hanya sebuah tim kecil yang berkutat di divisi 3 hingga menembus Championship dan kini mapan di Premier League.

Akan tetapi, Tony Bloom tak sendirian. Pria berusia 53 tahun itu tak hanya mengurus Brighton, tetapi juga Union SG di Liga Belgia. Pria yang dijuluki “The Lizard” di meja poker itu juga mengurus perusahaan konsultan judi miliknya, Starlizard.

Maka dari itulah, Tony Bloom butuh tangan kanan khusus untuk mengurus dan mengelola Brighton yang ia cintai. Dan sosok tersebut adalah Paul Barber. Kelak kita akan mengenal sosok ini sebagai CEO Terbaik Liga Primer Inggris. Dialah sosok vital di balik sukses dan stabilnya Brighton & Hove Albion.

Dilucuti Klub Rival, Brighton Malah Sukses Menembus Eropa

Kmebali ke awal musim lalu, Brighton bisa dibilang sebagai salah satu tim yang paling dilucuti kekuatannya. Sebelum bursa transfer, mereka kehilangan Dan Ashworth. Sang direktur teknis berpengalaman itu dibajak oleh Newcastle United.

Pada bursa transfer musim panas 2022, Brighton juga kehilangan salah satu pemain terbaiknya. Marc Cucurella yang baru saja dinobatkan sebagai pemain terbaik Brighton musim 2021/2022, hengkang ke Chelsea dengan mahar lebih dari €65 juta.

Selain Cucurella, Brighton juga melepas Yves Bissouma ke Tottenham Hotspur, Leo Ostigard ke Napoli, serta top skor mereka selama 3 musim beruntun, Neal Maupay ke Everton.

Brighton yang membuka Premier League musim ini dengan kemenangan bersejarah atas MU di Old Trafford kemudian kembali dilucuti di bulan September 2022. Menyusul pemecatan Thomas Tuchel, Chelsea kembali mengetuk pintu Brighton untuk membajak sang juru taktik, Graham Potter.

Yang jadi masalah, Potter tidak sendirian hengkang ke Stamford Bridge. Ia membawa serta asistennya di Falmer Stadium, seperti asisten Billy Reid, pelatih tim utama Bjorn Hamberg dan Bruno, pelatih kiper Ben Roberts, serta asisten kepala rekrutmen Kyle Macaulay.

Dengan kondisi demikian, mudah bagi siapapun untuk menilai kalau Brighton telah melemah. Namun, siapa yang bakal menyangka kalau Brighton tetap stabil. Brighton tetap menjadi Brighton sang pembunuh raksasa.

Chelsea mereka gulung 2 kali dengan skor 4-1 dan 2-1. Liverpool pernah mereka libas 3 gol tanpa balas. MU kembali mereka taklukkan 1-0. Arsenal juga tak luput mereka taklukkan. The Seagulls adalah pihak yang memupus harapan juara The Gunners usai menang 3-0 di Emirates Stadium.

Puncaknya, Brighton berhasil menutup musim ini dengan prestasi terbaik mereka sepanjang sejarah pasca menahan imbang Manchester City 1-1 di laga tunda pekan ke-32. Hasil tersebut sudah cukup untuk mengunci posisi Brighton di papan klasemen Premier League. Tambahan 1 poin membuat koleksi poin pasukan Roberto De Zerbi bertambah menjadi 62 poin, hasil dari 18 kali menang dan 8 kali imbang dalam 37 pertandingan.

Walau kalah dari Aston Villa di laga terakhir, koleksi poin Brighton sudah tak mungkin dikejar oleh Aston Villa sebagai pesaing terdekat mereka. Dengan finish di peringkat 6, mereka berhak atas 1 tiket ke babak grup Liga Europa musim depan.

Ini jadi pencapaian terbaik Brighton di Premier League. Musim depan, Brighton bakal menginjakkan kakinya di kompetisi UEFA untuk pertama kalinya semenjak klub berdiri pada 24 Juni 1901. Prestasi tersebut tak lepas dari andil besar Paul Barber. Dialah sosok vital di balik sukses dan stabilnya performa Brighton.

Saat Dan Ashworth dibajak Newcastle United, Paul Barber dengan cepat langsung mempromosikan David Weir untuk mengisi jabatan Direktur Teknis. Lalu, ketika Brighton kehilangan Graham Potter, Paul Barber juga tak butuh waktu lama untuk langsung mengontrak Roberto De Zerbi. Di bawah pelatih asal Italia itulah kemudian Brighton sukses mencetak sejarah.

Apa yang dipetik Brighton musim ini memang buah dari taktik cemerlang De Zerbi sebagai manajer. Namun, tanpa peran vital Paul Barber di balik layar, semua itu takkan terwujud. Barber telah berhasil membuat Brighton beroperasi sebagai salah satu klub dengan pengelolaan terbaik di Premier League.

Peran Paul Barber Sebagai CEO Brighton

Paul Barber bergabung dengan Brighton & Hove Albion sebagai CEO pada musim panas 2012. Pria yang kini berusia 56 tahun itu punya pengalaman segudang di bidang eksekutif. Barber pernah menjabat sebagai Direktur Komersial serta Direktur Pemasaran dan Komunikasi untuk FA.

Setelah keluar dari FA, Barber bekerja untuk Daniel Levy di Tottenham Hotspur sebagai direktur eksekutif. Barber adalah sosok yang bertanggung jawab mengurus sektor komersial Spurs. Ia bertahan di White Hart Lane dari 2005 hingga 2010.

Sempat menjadi orang Inggris pertama yang menjadi CEO di klub MLS, tepatnya di Vancouver Whitecaps, Paul Barber kemudian memutuskan pulang kampung ke Inggris di awal tahun 2012. Saat itu, ia langsung jadi rebutan banyak klub. Namun, secara mengejutkan, Barber menerima tawaran Brighton & Hove Albion yang saat itu masih berkompetisi di Championship.

Seperti halnya sebuah perusahaan, salah satu posisi paling vital dalam klub sepak bola adalah Chief Executive Officer atau CEO. Secara gampangnya, CEO adalah sosok yang harus memastikan organisasi berjalan dengan baik. Ia harus bekerja mengepalai banyak departemen, seperti departemen medis, keuangan, hingga departemen teknis yang langsung mempengaruhi kinerja tim di atas lapangan.

Biasanya, CEO bekerja di bawah owner dan dewan direksi klub. Jika mengacu pada kriteria yang ditentukan oleh FA, seorang CEO harus bertanggung jawab terhadap beberapa sektor. Di sektor keuangan, CEO harus mengembangkan rencana bisnis perusahaan, mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan profit, serta menetapkan dan memantau rencana opersional dan sistem pengendalian keuangan.

Di sektor sumber daya manusia, CEO harus memastikan klubnya memiliki sumber daya yang memadai dan terstruktur yang sesuai dengan tujuan, serta mengembangkan dan mengelola hubungan dengan kontraktor dan mitra bisnis. Seorang CEO juga harus memastikan klub mematuhi semua undang-undang yang berlaku.

Tanggung jawab itulah yang diemban oleh Paul Barber di Brighton. Selama di Brighton, salah satu pekerjaan tersuksesnya di sektor komersial adalah menandatangani perjanjian sponsor jangka panjang dengan American Express. Perusahaan jasa keuangan yang berbasis di New York itu tak hanya memasang namanya di jersey Brighton, tetapi juga di stadion Brighton dan fasilitas latihan tim utama, akademi, dan sepak bola wanita Brighton.

Kerja keras Paul Barber dan kolega telah membuat Brighton untung secara finansial. Untuk tahun keuangan 2021/2022, Brighton dilaporkan meraih keuntungan £24,1 juta. Hebatnya, mereka adalah tim dengan tagihan gaji kedua terendah di Liga Inggris.

Cara Paul Barber Stabilkan Brighton

Seperti yang sudah kami singgung, Paul Barber tak hanya bekerja di sektor non teknis saja, tetapi juga bekerja di sektor teknis yang mempengaruhi kinerja tim di lapangan hijau. Untuk memastikan Brighton berada di jalan yang benar, Barber membuat suatu sistem. Tak peduli siapa yang akan menjabat sebagai direktur olahraga atau manajer, sistem tersebut akan tetap sama cara kerjanya.

“Kami memiliki tim perekrutan yang sama, proses perekrutan tidak pernah berubah, dan sistem yang sama. Dan itu sangat penting jika Anda ingin kesinambungan mempengaruhi transisi yang mulus,” kata Paul Barber dikutip dari chroniclelive.

Itulah mengapa mereka tak butuh waktu yang lama untuk mencari pengganti Dan Ashworth. Usut punya usut, Paul Barber memang sudah lama mempersiapkan David Weir sebagai suksesor Dan Ashworth.

Begitu pula cara kerja Paul Barber mengontrak Roberto De Zerbi. Barber dan Tony Bloom ternyata sudah lama menyadari kalau suatu saat Graham Potter pasti akan meninggalkan mereka. Sudah sejak jauh-jauh hari Paul Barber mempersiapkan calon penggantinya. Kebetulan, nama Roberto De Zerbi ternyata sudah dipantau sejak ia melatih Sassuolo.

“Kami melihat gaya permainan para pelatih di seluruh Eropa. Sumber daya apa yang mereka gunakan dan hasil apa yang mereka dapatkan dari sumber daya tersebut. Kami kemudian membentuk daftar pendek dan daftar pendek itu menjadi sangat penting pada saat baru-baru ini ketika Graham meninggalkan kami,” kata Paul Barber dikutip dari SussexExpress.

Dengan cara dan sistem yang sama pula, Brighton dapat dengan segera menambal skuad mereka yang setiap musimnya dilucuti. Tak peduli siapa yang duduk di kursi kepala rekrutmen atau direktur olahraga, Brighton sudah punya sistem perekrutannya sendiri.

Itulah mengapa Brighton konsisten mengorbitkan pemain dari negara-negara yang jarang dilirik klub besar atau pemain yang datang dari klub antah berantah. Robert Sanchez, Kaoru Mitoma, Pervis Estupinan, dan Julio Enciso adalah beberapa contohnya.

Sistem perekrutan pemain Brighton bahkan sudah bekerja sebelum bursa transfer musim panas dibuka. Seperti di musim panas ini. Alexis Mac Allister dan Moises Caicedo kemungkinan bakal segera meninggalkan klub. Namun, Brighton sudah bersiap untuk kehilangan keduanya dan telah mempersiapkan penggantinya.

Saat ini, Brighton dipastikan sudah mendapatkan Joao Pedro yang memecahkan pembelian klub usai dibeli dengan harga lebih dari €30 juta dari Watford. The Seagulls juga tinggal selangkah lagi mendapatkan James Milner dan Mahmoud Dahoud secara gratis.

Begitulah sistem di Brighton bekerja dan sosok yang membuat sistem tersebut adalah Paul Barber. Atas jasanya terhadap sepak bola, di akhir tahun lalu, Paul Barber dianugerahi OBE atau Bintang Kekaisaran Britania Raya.

Apa yang dilakukan oleh Paul Barber bersama Brighton & Hove Albion adalah contoh bagaimana seharusnya seorang CEO bekerja. Se-vital itu peran mereka dalam sebuah klub sepak bola. Ternyata kesuksesan sebuah tim di lapangan tak lepas dari kerja rumit CEO di balik layar.


Referensi: BBC, SussexExpress, ChronicleLive, Sportskeeda, Talksport.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *